jatuh

16 03 2009

Suatu hari menjelang UTS hari ketiga, aku bersama seorang teman bernama vita dengan semangat menyambut hari yang cerah itu. Kami berdua sejak pagi telah berencana melaksanakan kegiatan mulia (belajar bersama) di kos teman. Sayangnya semangat kami harus tertunda karena ada hal yang dikerjakan di kos sejak pagi. Kami yang biasanya berangkat pukul 8 pagi, padahal ujian mulai jam 3 sore, terpaksa berangkat 2 jam lebih lama. Dengan terburu-buru kusiapkan motorku. Dalam hati tak rela jika 2 teman sekelompok belajar membiarkan aku dan vita dalam keterpurukan ketinggalan materi* (* = materi di sini meliputi materi kuliah yang belum sempat terbaca, gossip artis terbaru, gossip kampus paling gres, tempat makan siang yang akan dikunjungi, serta berita terbaru lainnya)
Vita yang pagi itu terlihat lebih kalem dengan rok batiknya tak berkomentar atas keterlambatan kami. Sepanjang jalan kami asyik bercerita. Terutama aku,karena pagi itu kudengar cerita dari sepupuku tentang masa laluku yang menggelikan. Vita hanya berkomentar seperlunya sambil sesekali tertawa melihatku yang dengan penuh semangat bercerita. Aku masih saja mengoceh sambil mengendarai motor. Sampai 50 meter sebelum tempat kegiatan mulia berlangsung, tibalah kami pada daerah yang disebut halte KG. Sudah beberapa bulan ini terpasang dua buah polisi tidur di sana. Salah satunya berukuran jumbo. Sepelan apapun motor lewat, gunjangan karena benda hitam bergaris putih itu pasti terasa. Entah karena asyik bercerita atau memang teledor, jalanan tak kuperhatikan. Sampai di polisi tidur, dengan kaget ku rem motorku. Namun apes, vita yang tengah mendengarku bercerita tak berpengangan, sehingga dia harus menjerit karena raganya terhempas ke aspal (singkatnya: vita jatuh). Aku yang mendengar jeritannya ikut menjerit ketakutan. Segera kuhentikan motorku dan kulihat teman satu kosku itu terguling di jalanan. Aku hanya bisa terdiam melihatnya. Dari belakang, kulihat seorang bapak mendekatiku dengan motornya sambil ngomel-ngomel memarahiku. Untungnya vita baik-baik saja, bahkan sempat tertawa atas kejadian itu. Mungkin bukan tertawa karena senang, tapi tertawa menahan sakit dan malu (maap ya vit!!). Hari itu benar-benar hari yang membuat jantungku bekerja lebih keras. Dan usaha otakku yang ekstra keras mempelajari bahan ujian, buyar seketika T-T





CengLu

8 11 2008

Beberapa waktu yang lalu, ketika UTS masih hangat-hangatnya ada hal aneh yang sempat menjadi kebiasaan. Saat itu, tiap pagi aku selalu pergi ke kos teman, yang lebih pintar, bernama yeni bersama seorang teman, yang juga lebih pintar dariku, bernama stefani (selanjutnya kita sebut dia cupank.hehehe) untuk belajar bersama. Keren sekali jika belajar bersama ini yang jadi kebiasaan. Sayangnya bukan itu. Dalam kamus perkuliahan kami, belajar bersama hanya terjadi dua kali dalam satu semester. Yaitu ketika UTS dan UAS. Walau hanya dua kali, kegiatan ini benar-benar menjadi kontribusi besar bagi nilai-nilai kami. Apalagi kini balajar bersama juga dimeriahkan oleh seorang kawan bernama vita (kok ga dari dulu ikutnya vit? :)

Kembali ke topik awal. Kebiasaan baru, yang bukan belajar belajar bersama itu, dicetuskan oleh ide gila cupank. Kami namai hobi baru itu CENGLU alias bonCENG teLU (bonceng tiga). Cenglu selalu terjadi setiap berangkat ujian. Tiga puluh menit sebelum ujian berlangsung, kami selalu menghentikan kegiatan mulia (belajar bersama) untuk bergegas menuju kampus. Jarak kos yeni dan kampus jika ditempuh dengan jalan kaki hanya sekitar sepuluh menit. Namun karena aku bawa motor, yeni dan cupank lah yang selalu berjalan kaki. Karena tak enak jika sampai kampus hanya sendiri, kupelankan motorku agar kami tetap sampai kampus dalam waktu yang sama.

Entah kenapa suatu hari sebelum berangkat, tiba-tiba cupank tersenyum licik di depanku. Ia bilang padaku bahwa ia mau aku bonceng. Namun yeni tak mau ditinggal. Masih dengan senyumnya, cupank meminta yeni ikut naik ke motorku. Awalnya aku sedikit ragu, takut kalau motorku tak mampu membawa kedua temanku itu. Yeni pun enggan karena ia masih mempertahankan imagenya, apalagi dia seorang aktivis organisasi muslim di kampus. Aku bisa memakluminya, bisa kubayangkan jika ia bertemu dengan juniornya, betapa malunya. Tapi rasa maklumku terkalahkan oleh ajakan cupank. Kurayu yeni agar mau ikut bersamaku dan cupank. Semenit berpikir, akhirnya yeni setuju.

Pelan-pelan kubawa motorku. Malu, takut, bercampur aduk dalam diriku. Mungkin naik motor bertiga itu hal biasa. Yang menjadi luar biasa (baca: aneh) di sini karena yeni yang berada paling belakang memakai rok sehingga ia harus dibonceng dalam posisi miring. Untung saja postur tubuh kami kecil, jadi motorku tetap muat. Karena itu pengalaman cenglu ku yang pertama, aku sangat malu. Maklum di situ banyak anak jurusan lain yang tak segan melempar senyum ketika kami lewat. Kupakailah slayer penutup mukaku (maksudnya biar tidak dikenali).

Dua teman di belakangku cukup bingung memikirkan cara agar tak malu, karena mereka tak bawa helm ataupun slayer. Dengan polosnya cupank yang berada di tengah menempelkan dagunya ke pundakku. Ketika kutanya alasannya. Ia bilang pura-pura pingsan (ia pikir jika tutup mata, takkan terasa malunya, Dasar cupank!! J). Hanya yeni yang tetap pada posisi semula, dia tak ada ide. Sehingga seakan-akan semua rasa maluku dan cupank dibebankan padanya.(maafkan kami mbakyu…)

Cenglu ini berjalan lancar selama beberapa hari. Namun, suatu hari terjadi hal yang membuat yeni keluar dari geng cenglu. Ketika sedang menikmati asyiknya cenglu menuju pos satpam di kampus Farmasi, tiba-tiba muncul motor lain di belakangku. Tak disangka si pembawa motor itu adalah salah satu petinggi organisasi muslim yang yeni ikuti (kalau tidak salah jabatannya sekjen). Aku sih cuek saja. Ternyata saat aku memarkirkan motorku, yeni mendapat teguran dari sekjennya. Entah wejangan apa yang yeni dapat. Yang pasti kini geng cenglu telah bubar, hanya tinggal aku dan cupank yang selalu siap menerima anggota baru. Walaupun begitu, kami tetap mengharapkan yeni kembali….





perjalanan tilangku

6 11 2008

Seumur hidupku dalam dunia permotoran, sekitar 6 tahun, aku baru 3 kali kena tilang. Dan ketiga-tiganya merupakan cerita unik (baca: aneh) bagiku. Kena tilang yang pertama, waktu itu bulan februari 2005 di magelang. Ceritanya, aku disuruh orang rumah untuk belanja keperluan karena di rumah ada acara (kalau tidak salah khitanan adekku). Berangkatlah aku bersama sepupuku naik motor. Dengan PeDe tanpa lihat surat-suratnya aku langsung tancap gas sekencang-kencangnya sebisaku (waktu itu sekalian pamer pada sepupuku bahwa aku juga bisa ngebut :) . Sampai di 2 traffic light masih aman dan terkendali. Apesnya, sampai pada traffic light ketiga lampu tepat berubah dari hijau menjadi kuning. Karena merasa masih kuning, rem tangan atau kaki tak kusentuh. Sayangnya setelah itu jalanan agak macet dan aku harus berjalan pelan-pelan. Tak disangka seorang polisi bermotor sudah berada di sampingku dan menyuruhku berhenti. Kontan saja aku kaget. Lha wong aku ngrasa nggak salah kok. Si Bapak itu memintaku mengeluarkan surat-surat permotoran yang meliputi SIM dan STNK. Tadinya si santai-santai saja. Tapi ternyata aku baru sadar bahwa hari sebelumnya motorku dipinjam ayah beserta STNKnya. Dan kalau tidak salah ingat, STNK masih tergeletak di atas kulkas di rumahku. Singkatnya, STNK motorku ketinggalan. Akhirnya si bapak polisi menyuruhku ke kantornya. Ditanya-tanya sekian menit aku mencoba membela diri bahwa lampu masih kuning. Si bapak mengalah. Lampu tak jadi soal lagi. Tapi STNK tetap jadi masalah. Aku kena tilang. Di pengalaman pertamaku ini aku tetap merasa dirugikan meski tau aku salah. Aku tak pernah menerobos lampu merah, hanya menerobos lampu kuning, namun polisi itu tetap mengejarku. Coba kalau ia tak mengejar, mana tahu dia kalau aku tak bawa STNK.

Tilang yang kedua terjadi di Jogja. Waktu itu masih jaman-jamannya padat praktikum. Satu semester bisa praktikum sampai lima kali (capek betul kalau ingat masa “indah” itu). Kalau tidak salah waktu aku semester 2. Setelah praktikum Biologi molekuler (nama bekennya ‘biomol’) yang super lama dan njlimet, aku berniat segera pulang ke kos. Maklum, hari sudah sore, jadi tak ada niatan untuk main-main. Sampai di parkiran depan unit 3 aku bertemu seorang teman, yang kini beda jurusan denganku, hendak pulang ke kosnya. Karena kosnya sangat dekat dengan kosku, hanya terhalang dua rumah, niat baikku muncul. Kuajak dia pulang bersama naik motor. Tak enak membiarkannya pulang sendirian sementara hari mulai gelap. Sayangnya aku hanya membawa satu helm dan itu pun kupakai di kepalaku sendiri. Kupikir kalau hanya dari kampus menuju kos, yang jaraknya hanya sekitar 2 km, tanpa helm tidak akan jadi masalah. Ternyata pikiranku hanya tepat jika traffic light dekat kampus menyala hijau saat kita lewat. Apesnya waktu kami sampai di sana. Lampu menyala merah. Dengan tenang (masih tenang) kami berhenti. Tiba-tiba dari pos polisi sebelah lampu (kejadian ini terjadi di perempatan MM, kami dari arah Farmasi hendak menuju selokan. Bisa dibayangkan?)muncul seorang polisi tanpa tutup kepalanya membawa peluit. Di pinggir jalan itu ia membunyikan peluitnya sambil mengacungkan jarinya. Kupikir orang di belakangku yang kena peluit. Ternyata aku sendiri yang diacunginya. Tiba-tiba gerakan tangannya berubah. Dari mengacungi mendadak melambai. Menyuruhku mendatanginya, sudah pasti untuk diinterogasi. Malu bercampur takikardi aku menuruti polisi itu. Di dalam pos polisi aku ditanya-tanya soal alasan temanku yang tanpa helm. Kujawab saja itu bentuk solidaritas pada teman. Sebenarnya aku agak tenang ketika ditanyai. Namun, temanku yang kubonceng malah menangis. Aku panik lagi. Bukan karena polisinya, tapi karena melihat temanku menangis. Ada sedikit penyesalan mengajaknya pulang bersama saat itu. Interogasi dengan derai air mata pun selesai. Akhirnya pak polisi memutuskan mendendaku sebesar 20ribu. Aku yang tak mau rugi masih sempat-sempatnya berstrategi agar uang yang kukeluarkan tak harus sebanyak itu. Sebenarnya di dalam dompet masih ada uang 50ribu yang kulipat kecil untuk menyambung hidup di jogja sampai akhir minggu, sedangkan uang yang tak kulipat hanya 17ribu. Kubilang saja uangku hanya tinggal 17ribu, kukeluarkan uang itu dan beberapa koin uang receh. Mungkin pak polisinya merasa trenyuh melihat uang kami yang tinggal “segitu”. Dia trima uang 17ribu itu dan mengembalikan receh-receh milikku. Intinya aku dapat diskon…hahaha…atau mungkin yang 3ribu rupiah telah tergantikan oleh airmata temanku itu.

Tips saat ketilang : jika harga airmata 1 orang= 3ribu rupiah, ajaklah 7 orang temanmu untuk menangis di hadapan polisinya, kamu akan dapat kembalian seribu rupiah. Selamat mencoba ^^

Tilang yang ketiga terjadi saat masa-masa “aneh” KKN sekitar bulan agustus. Saat itu aku baru saja menikmati pulang ke jogja dari tempat KKN yang sebenarnya juga masih di daerah jogja. Berniat kembali menunaikan kewajiban sebagai mahasiswa KKN, sebelumnya aku mengantar seorang sahabat yang lokasi KKN nya di daerah semarang. Aku mengantarnya sampai di terminal Jombor. Mungkin karena lama sekali aku tak masuk ke terminal itu dengan motor, agak sedikit bingung ketika harus keluar dari tempat itu. Asal saja aku berbelok ke arah aku masuk tadi, tak melihat kalau di pojok jalan terdapat tanda lalu lintas bulat merah berstrip putih di tengahnya (ternyata itu jalur satu arah!!). Tak jauh di depanku sudah berdiri seorang polisi yang sangat bersemangat memberhentikanku. Bingung, aku pun berhenti. Surat-surat motorku dimintanya dan aku digiring masuk ke pos polisi. Di dalam aku diinterogasi, ditanya-tanya hal yang tak penting. Saat ditanya aku mempraktekkan teori yang kudapat dalam mata kuliah konseling. Tampak serius memperhatikan, aku memposisikan sebagai seorang pretending alias hanya berpura-pura mendengarkan :p. Itu bukan mauku. Niatnya ingin benar-benar memperhatikan, menghargai orang saat bicara, namun hape di saku celanaku terus bergetar. Panggilan-panggilan terlewatkan dan beberapa sms memenuhi layar hapeku. Ternyata teman-teman satu sub unit yang menghubungiku, mengabarkan bahwa mereka menungguku di tempat makan untuk pulang bersama ke tempat KKN. Aku tambah bingung, selain harus menghadapi polisi di depanku, aku juga bingung karena tak ada pulsa untuk menghubungi teman-temanku. Nekat, aku ajak ngobrol polisinya sebentar lalu dengan PeDenya aku minta pulsa padanya. Agak sedikit heran polisi itu menatapku. Tapi hapenya tetap sampai ke tanganku. Kupencet-pencet tombolnya. Namun karena hape itu terlalu canggih buatku, ku minta polisi itu mengajariku menggunakan hapenya. Entah kenapa polisi itu mau saja melakukannya. Bahkan katanya aku tak hanya boleh sms tapi telepon jika nomor hape temanku itu satu operator dengannya. Ternyata saat menilang polisi pun masih mau berbagi ^^, saat ketilang bisa juga dapat bonus pulsa.. :D







Follow

Get every new post delivered to your Inbox.