hmm…di blog ini aku masukin hasil praktikum terapiku…dari pada hanya kesimpen di laptop ga ada yang baca,memding aku post aja ^^
selamat membaca…semoga bermanfaat..
hmm…di blog ini aku masukin hasil praktikum terapiku…dari pada hanya kesimpen di laptop ga ada yang baca,memding aku post aja ^^
selamat membaca…semoga bermanfaat..
Rhinitis adalah inflamasi pada membran mukosa di hidung (Dipiro, 2005). Berdasarkan penyebabnya, dibagi menjadi 2, yaitu rhinitis alergi karena allergen dan rhinitis nonalergi yang disebabkan faktor-faktor pemicu seperti obat(rhinitis medicamentosa), atau karena abnormalitas structural (rhinitis structural). Rhinitis alergi muncul ketika membran mukosa terpapar oleh allergen sehingga memberikan respon yang diperantarai oleh immunoglobulin E (IgE). Respon ini memacu pelepasan mediator inflamasi. Rhinitis alergi dikarakteristik oleh bersin-bersin, hidung berair, nasal kongesti, mata merah, berair, dan gatal (Plaut, 2005). Biasanya rhinitis alergi terjadi pada individu yang sensitif.
Berdasarkan waktunya, rhinitis alergi dapat digolongkan menjadi :
- Rhinitis seasonal yang biasanya muncul pada waktu-waktu tertentu yang sudah dapat diprediksi. Biasanya terjadi pada musim semi. Alergen yang terlibat dapat berupa serbuk sari, atau rerumputan.
- Rhinitis parrenial disebabkan bukan karena musim tertentu. Biasanya disebabkan oleh allergen berupa dust mites, dander binatang, jamur. Rhinitis tipe ini biasanya merupakan gejala kronis. (Dipiro, 2005)
Seseorang dapat mengalami rhinitis kombinasi antara dua jenis tersebut. Masih ada satu lagi jenis rhinitis alergi, yaitu :
- Rhinitis alergi occupational
Rhinitis yang terkait dengan pekerjaan. Paparan allergen didapat di tempat bekerja. Biasanya dialami oleh orang yang bekerja dekat dengan binatang. (Sheikh, 2008)
Respon Imun
Reaksi alergi di hidung dimediasi oleh respon antigen-antibody, allergen berinteraksi dengan IgE yang terikat sel mast dan basofil. Selama inhalasi, allergen yang dibawa udara memasuki hidung dan diproses oleh limfosit, yang memproduksi antigen spesifik IgE. Pada paparan pertama, biasanya belum terjadi reaksi alergi. Namun pada paparan berikutnya IgE yang berikatan dengan sel mast berinteraksi dengan allergen kemudian memacu pelepasan mediator inflamasi. Reaksi ini dapat berlangsung lambat maupun cepat. Mediator inflamasi yang terlibat dapat berupa histamine, lerukotrien, prostaglandin, tryptase, dan kinin. (Dipiro, 2005)
Terapi
Terapi rhinitis alergi terbagi dalam tiga pendekatan, meliputi penghindaran terhadap allergen, farmakoterapi untuk pencegahan dan penanganan gejala, imunoterapi spesifik. Penghindaran terhadap allergen merupakan cara yang paling memberikan hasil. Namun cara ini juga sulit dilakukan. Cara yang sering digunakan untuk menghindari allergen antara lain mengatur kelembaban ruangan untuk mencegah pertumbuhan jamur, menjauhkan hewan berbulu dari pasien alergi, namun hal ini sering tidak dipatuhi terutama oleh pecinta binatang. Membersihkan kasur secara rutin juga dapat dilakukan.
Sedangkan terapi farmakologinya didasarkan pada gejala yang terjadi. Antihistamin dan dekongestan merupakan golongan obat yang sering dipakai untuk menangani rhinitis alergi. Pada beberapa keadaan, golongan obat-obat ini dapat diberikan tanpa resep, namun pasien juga memerlukan konseling untuk menentukan obat yang tepat.
- Antihistamin
Mekanisme kerja obat golongan ini adalah berikatan dengan reseptor H1 tanpa mengaktivasinya, mencegah ikatan dan aksi histamine. Antihistamin generasi baru juga dapat berefek pada respon inflamasi seperti pelepasan histamine dan influx sel inflamasi.
Antihistamin yang sering digunakan adalah antihistamin oral. Antihistamin oral dibagi menjadi dua yaitu generasi pertama (nonselektif) dikenal juga sebagai antihistamin sedatif serta generasi kedua (selektif) dikenal juga sebagai antihistamin nonsedatif.
Efek sedative antihistamin sangat cocok digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur karena rhinitis alergi yang dideritanya. Selain itu efek samping yang biasa ditimbulkan oleh obat golongan antihistamin adalah efek antikolinergik seperti mulut kering, susah buang air kecil dan konstipasi. Penggunaan obat ini perlu diperhatikan untuk pasien yang mengalami kenaikan tekanan intraokuler, hipertiroidisme, dan penyakit kardiovaskular.
Antihistamin sangat efektif bila digunakan 1 sampai 2 jam sebelum terpapar allergen. Penggunaan antihistamin harus selalu diperhatikan terutama mengenai efek sampingnya. Antihistamin generasi kedua memang memberikan efek sedative yang sangat kecil namun secara ekonomi lebih mahal.
- Dekongestan
Dekongestan topical dan sistemik merupakan simpatomimetik agen yang beraksi pada reseptor adrenergic pada mukosa nasal, memproduksi vasokonstriksi. Topikal dekongestan biasanya digunakan melalui sediaan tetes atau spray. Penggunaan dekongestan jenis ini hanya sedikit atau sama sekali tidak diabsorbsi secara sistemik (Dipiro, 2005). Penggunaan obat ini dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan rhinitis medikamentosa (rhinitis karena penggunaan obat-obatan). Selain itu efek samping yang dapat ditimbulkan topical dekongestan antara lain rasa terbakar, bersin, dan kering pada mukosa hidung. Untuk itu penggunaan obat ini memerlukan konseling bagi pasien.
Sistemik dekongestan onsetnya tidak secepat dekongestan topical. Namun durasinya biasanya bisa lebih panjang. Agen yang biasa digunakan adalah pseudoefedrin. Pseudoefedrin dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat walaupun digunakan pada dosis terapinya (Dipiro, 2005). Obat ini harus hati-hati digunakan untuk pasien-pasien tertentu seperti penderita hipertensi. Saat ini telah ada produk kombinasi antara antihistamin dan dekongestan. Kombinasi ini rasional karena mekanismenya berbeda.
- Nasal Steroid
Merupakan obat pilihan untuk rhinitis tipe perennial, dan dapat digunakan untuk rhinitis seasonal. Nasal steroid diketahui memiliki efek samping yang sedikit.
Obat yang biasa digunakan lainnya antara lain sodium kromolin, dan ipatropium bromida.
Penanganan Rhinitis alergi yang terakhir adalah dengan imunoterapi. Terapi ini disebut juga sebagai terapi desensitisasi. IMunoterapi merupakan proses yang panjang dan bertahap dengan cara menginjeksikan antigen dengan dosis yang ditingkatkan. Imunoterapi memiliki biaya yang mahal serta risiko yang besar, serta memerlukan komitmen yang besar dari pasien.
Recent Comments